Social Icons

Pages

Selasa, 12 Februari 2013

Materi Kuliah_Satuan Program PNF



MEMAHAMI PENDIDIKAN NON FORMAL

A. Tujuan Pembelajaran
1. Memberikan pemahaman tentang pengertian Pendidikan Nonformal
2. Memberikan pemahaman tentang pendidikan Nonformal sebagai suatu sistem
3. Memberikan pemahaman tentang komponen pendidikan nonformal

B. Uraian Materi
1. Pengertian Pendidikan Nonformal
     Berbagai pengertian tentang Pendidikan Luar Sekolah atau Pendidikan Nonformal
telah dikemukakan oleh para pakar dalam sudut pandang yang berbeda. Menurut Coombs (1973) Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan terorganisasi, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya (Sudjana, 1991: 20) Sihombing (2000: 12), Pendidikan Luar Sekolah adalah usaha sadar yang diarahkan untuk menyiapkan, meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia, agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan daya saing untuk merebut peluang yang tumbuh dan berkembang, dengan mengoptimalkan penggunakan sumber-sumber yang ada di lingkungannya. Lebih lanjut, Sihombing (2000: 12), mengemukakan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah satu proses pendidikan yang sasaran, pendekatan, dan keluarannya berbeda dengan pendidikan sekolah, dan bukan merupakan pendidikan sekolah yang dilakukan di luar waktu sekolah. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Pendidikan Luar Sekolah/ Pendidikan Nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal (sekolah) yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dari berbagai definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa Pendidikan Luar Sekolah atau Pendidikan Nonformal adalah setiap aktifitas yang dilakukan secara teratur, terorganisir yang berlangsung di luar sistem persekolahan/ pendidikan formal.

2. Komponen Pendidikan Nonformal
      Sistem Pendidikan Non-Formal adalah keseluruhan (organisme) yang terdiri atas
rangkaian komponen yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan berproses untuk mencapai tujuan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sistem Pendidikan Non-Formal terdiri atas komponen, proses, dan tujuan. Masukan (input), yaitu masukan lingkungan, masukan sarana, masukan menah, dan masukan lain. Uraian berikut dikemukakan dua cara pandang untuk melihat komponenkomponen pendidikan Non Formal

a. Pendidikan Non Formal Sebagai Sistem Terbuka
      Sebagai sistem terbuka, maka pendidikan Non Formal, dalam proses pendidikan
dan pembelajarannya secara terbuka menerima dan dipengaruhi oleh berbagai komponen. Hubungan fungsional antara semua komponen pendidikan Non Formal menurut Sudjana (1991) dapat dilihat pada gambar berikut:


 
     Masukan sarana (instrumental input) adalah keseluruhan perangkat pembelajaran yang disusun oleh pengelola, khususnya perencana Pendidikan Non- Formal, sehingga dapat menjamin terwujudnya interaksi edukatif antara pelatih dengan peserta Pendidikan Non-Formal. Perangkat ini meliputi kurikulum, tenaga kePendidikan Non-Formal, sarana dan prasarana, serta biaya. Kurikulum mencakup tujuan pembelajaran dalam Pendidikan Non-Formal, susunan materi/ bahan pembelajaran, metode dan teknik serta media pembelajaran, dan teknik penilaiann hasil pembelajaran. Tenaga kePendidikan Non-Formal terdiri atas pelatih, instruktur atau widyaswara yang mempunyai tugas membantu peserta Pendidikan Non-Formal melakukan kegiatan belajar melalui bimbingan, pembelajaran, dan atau latihan. Ketenagaan lainnya dapat terdiri atas pengelola satuan atau program Pendidikan Non-Formal, peneliti dan pengembang Pendidikan Non-Formal, penilik dan pengawas, penguji atau penilai, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar. Sarana dan prasarana Pendidikan Non-Formal antara lain berupa gedung/panti Pendidikan Non-Formal, sarana transportasi, perlengkapan mebeler, perkakas, dan alat-alat bantu Pendidikan Non-Formal seperti laboratorium dan
tempat kerja praktek. Biaya Pendidikan Non-Formal meliputi sumber dana dan rincian biaya Pendidikan Non-Formal yang memadai bagi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian Pendidikan Non-Formal.
        Biaya perencanaan digunakan untuk kegiatan: (1) identifikasi kebutuhan, potensi dan kemungkinan hambatan Pendidikan Non-Formal, (2) penyusunan tujuan dan program Pendidikan Non-Formal, (3) penyusunan dan pengembangan bahan/ materi, metode, teknik dan media pembelajaran, (4) penyusunan dan pengujian alat evaluasi awal dan alat evaluasi akhir peserta Pendidikan Non-Formal, dan (5) penyiapan para pelatih. Biaya pelaksanaan mencakup (1) honorarium dan transportasi pelatih, (2) penyediaan dan penggandaan bahan pendidikan Non-Formal, (3) penyediaan dan pemeliharaan ruangan Pendidikan Non-Formal. Biaya penilaian terdiri atas: (1) penyusunan alat evaluasi program Pendidikan Non-Formal, (2) pelaksanaan penilaian, (3) pengolahan dan pelaporan hasil evaluasi program, serta (4) tindak lanjut penilaian.
    Masukan Mentah (raw input) Masukan mentah (raw input) adalah calon peserta Pendidikan Non-Formal. Calon warga belajar Pendidikan Non-Formal dapat dikaji dari segi karakteristik internal dan karakteristik eksternalnya. Karakteristik internal mencakup aspek psikis, fisik, dan/ atau fungsional. Aspek psikis meliputi kebutuhan (kebutuhan belajar, kebutuhan Pendidikan Non-Formal, dan/ atau kebutuhan hidup), minat, pengalaman, struktur kognitif, aspirasi, dan masalah, yang dimiliki calon peserta Pendidikan Non-Formal. Aspek fisik berkaitan dengan kuantitas, jenis kelamin, kondisi dan kesehatan fisik, serta usia. Aspek fungsional berhubungan dengan pekerjaan, jabatan, kegiatan, satus sosial, tanggung jawab dalam keluarga, dlsb. Karakteristik eksternal berhubungan dengan tuntutan kemampuan dan tugas baru sebagai akibat perubahan kebijakan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, status sosial ekonomi keluarga, organisasi yang diikuti, lingkungan sosial, ketersediaan daya dukung bagi kegiatan belajar, dan kebiasaan belajar dalam masyarakat.
     Masukan lingkungan (environmental input) yaitu faktor lingkungan yang menunjang atau mendorong berjalannya program pendidikan/ pembelajaran, meliputi lingkungan sosial, budaya, alam, kewilayahan, dan kelembagaan. Lingkungan sosial yaitu manusia dan kehidupannya. Lingkungan ini mencakup manusia secara perorangan, kelompok, komunitas, dan masyarakat dengan berbagai aspek kehidupannya. Lingkungan budaya meliputi hasil kegiatan atau ciptaan akal budi dan daya manusia yang diyakini baik dan bermanfaat. Lingkungan ini antara lain adalah kepercayaan, adat istiadat, tradisi, kesenian, dan pola interaksi yang menjadi kebiasaan perilaku manusia dalam lingkungannya. Lingkungan wilayah yaitu daerah dimana program atau kegiatan Pendidikan Non-Formal itu diselenggarakan. Wilayah ini dapat mencakup wilayah lokal (seperti lokasi tertentu, kampung, desa), daerah administratif pemerintahan (seperti desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi), wilayah nasional, regional (seperti ASEAN, APEC, dsb), atau internasional. Lingkungan kelembagaan meliputi jenis dan tingkatan lembaga (seperti instansi, organisasi dan lembaga), kebijakan lembaga, program dan kegiatan kelembagaan. Lingkungan ini merupakan masukan yang perlu dikaji lebih dahulu dalam merancang dan menetapkan program Pendidikan Non-Formal. Dari masukan lingkungan dapat diidentifikasi kebutuhan, potensi, dan kemungkinan kendala dalam penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal, serta lingkungan ini pula yang menjadi sumber dan yang mempengaruhi unsur-unsur sistem lainnya dalam Pendidikan Non-Formal.
     Lingkungan alam terdiri atas lingkungan alam hayati, non hayati, dan buatan. Lingkungan hayati (biotik) adalah flora dan fauna yang ada di daerah Pendidikan Non-Formal. Lingkungan ini mencakup dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan. Lingkungan non hayati (abiotik) meliputi antara lain keadaan tanah, mineral, tenaga (energi), dan cuaca. Lingkungan buatan atau binaan adalah lingkungan alam yang telah diubah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan kehidupannya, seperti sarana transportasi (jalan, jembatan, kendaraan), sarana ekonomi (bendungan, perusahaan, pasar, pabrik, alat produksi), sarana pendidikan (sekolah, kampus, pusat Pendidikan Non-Formal, bahan dan alat pembelajaran, dan sarana lainnya yang diperlukan dalam kehidupan.
      Proses (process) Pendidikan Non-Formal berkaitan dengan interaksi edukasi antara masukan sarana, terutama pelatih, dengan masukan mentah yaitu pesaerta didik Pendidikan Non-Formal. Interaksi yang dilakukan pendidik adalah untuk membantu warga belajar melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran, dan latihan sehingga warga belajar nonformal melakukan kegiatan belajar selama pendidikan. Kegiatan belajar ini diharapkan dapat dilakukan secara berlanjut setelah warga belajar selesai mengikuti kegiatan Pendidikan Non-Formal. Pembelajaran dilaksnakan dengan menggunakan berbagai sumber pendukung seperti tempat kerja, perpustakaan, narasumber, media masa (media cetak dan elektronik), alam sekitar, dsb. Pembelajaran dapat menggunakan pendekatan kontinum dari pedagogi ke andragogi dan/ atau gerogogi, serta sebaliknya. Pedagogi adalah ilmu dan seni mengajar anak-anak (paedagogy is the science and arts of teaching children). Andragogi adalah ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn). Proses pembelajaran lebih menekankan pada pembelajaran partisipatif yang memiliki ciri yaitu berdasarkan kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan, berorientasi pada tujuan Pendidikan Non-Formal, berpusat pada warga belajar, dan berangkat dari pengalaman belajar warga belajar atau belajar dengan cara mengalami (experiential learning). Pembelajaran partisipatif ditandai dengan upaya pendidik mengikutsertakan warga belajar dalam proses perancanaan, pelaksanaan, dan penilaian program Pendidikan Non-Formal. Proses Pendidikan Non-Formal ini lebih mengutamakan peranan warga belajar dalam melakukan kegiatan belajar, bukan menekankan pada peranan pendidik untuk mengajar.
     Keluaran (output) sebagai tujuan antara (intermediate goals) Pendidikan Non-Formal, adalah hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah mereka menempuh kegiatan Pendidikan Non-Formal. Hasil belajar ini mencakup kuantitas lulusan Pendidikan Non-Formal dan kualitas perubahan tingkah laku lulusan. Kuantitas lulusan adalah jumlah orang yang telah mengikuti Pendidikan Non-Formal sesuai dengan syarat-syarat kelulusan yang telah ditetapkan penyelenggara Pendidikan Non-Formal. Perubahan kualitas perilaku lulusan meliputi perubahan dalam ranah psikomotorik atau keterampilan (skills), kognisi, afeksi dan nilai. Secara sederhana perubahan itu mulai dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari tidak mau menjadi mau, dan dari tidak bisa menjadi bisa.
      Ranah psikomotorik adalah keterampilan fungsional yang diperoleh lulusan melalui tahapan pemberian stimulus (rangsangan), respons dari warga belajar, bimbingan oleh pendidik, pengkondisian gerakan secara mekanik, pengembangan respons berupa gerakan yang beragam, penyesuaian (adjusment) terhadap gerakan, dan melakukan gerakan secara mandiri. Teknik dasar pendidikan psikomotorik atau keterampilan (skills) adalah menunjukkan atau memperlihatkan (to show), menjelaskan (to explain) atau menceriterakan (to tell), mengerjakan (to do), dan mencocokkan (to check).
          Ranah psikomotorik dapat mencakup keterampilan produkstif, teknik, sosial, fisik, seni, manajerial, intelektual, emosional, dan spiritual. Keterampilan produktif (productive skills) adalah keterampilan guna menghasilkan suatu produk berupa benda atau jasa yang dapat langsung digunakan atau dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia seperti keterampilan tata busana, tata boga, tata graha, tata rias, dan pelayanan pariwisata. Keterampilan teknik (technical skills) berkaitan dengan pembuatan, perbaikan, dan pemeliharaan fasilitas dan alat-alat yang diperlukan dalam kehidupan seperti pesawat radio, bengkel kendaraan, televisi, komputer, dan internet. Keterampilan sosial (social skills) berkaitan dengan komunikasi dengan orang lain (individu, kelompok, komunitas), mencakup komunikasi langsung seperti wawancara, diskusi, orasi dan komunikasi secara tidak langsung melalui media masa (media cetak dan/ atau media elektronik). Keterampilan fisik (physical skills) berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan dan penampilan diri seperti senam, olah raga profesional, dan kebugaran jasmani. Keterampilan seni (artistic skills) dapat mencakup seni suara, seni musik, seni tari, seni drama, seni lukis, seni pahat, dlsb. Keterampilan manajerial (managerial skills) berhubungan dengan kegiatan pengelolaan suatu organisasi, program atau kegiatan melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan (pengawasan, penyeliaan, dan pemantauan), penilaian, dan pengembangan. Keterampilan intelektual (intellectual skills) berhubungan dengan kecakapan menggambarkan, menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan gejalagejala yang dihadapi dalam kehidupan manusia yang mungkin dapat dituangkan dalam bentuk proposal, rencana, dan/ atau model. Keterampilan emosi (emotional skills) berkaitan dengan pengendalian dan pemamfaatan perasaan, kemauan, semangat, dan aspek-aspek lain dalam kegiatan qolbu. Ketrampilan spiritual (spiritual skills) berhubungan dengan sikap dan penampilan yang senyawa dan seimbang antara hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta, serta penerapan nilai-nilai spiritual untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
         Ranah kognisi adalah penguasaan suatu pengetahuan oleh lulusan Pendidikan Non-Formal melalui tahapan pengenalan terhadap pengetahuan yang dipelajari, pemahaman (pengertian) terhadap pengetahuan, penggunaan pengetahuan, kegiatan menganalisis pengetahuan, mensintesis pengetahuan, dan mengevaluasi pengetahuan tersebut. Ranah afeksi mencakup perubahan sikap, nilai, dan aspirasi, yang dimiliki lulusan melalui tahapan penerimaan terhadap rangsangan, respons terhadap rangsangan, penilaian terhadap respons, pengorganisasian pola respons dalam diri lulusan, dan menjadikan pola respons sebagai ciri (karakteristik) pribadinya dalam kehidupan. Singkatnya, keluaran merupakan “tujuan antara” (intermediate objectives) Pendidikan Non-Formal yang mencakup kuantitas lulusan dan perubahan tingkah laku yang meliputi kemampuan-kemampuan yang dikuasai lulusan dalam ranah keterampilan (skills atau psikomotorik), ranah kognisi (pengetahuan), dan ranah afeksi (sikap, nilai, minat, aspirasi, inovatif, kreatif, keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa).
       Masukan lain (other input) adalah daya dukung atau sumber-sumber lainnya yang memungkinkan peserta atau lulusan Pendidikan Non-Formal dapat menggunakan kemampuan yang diperoleh dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dan kemajuan hidupnya. Dalam Pendidikan Non-Formal masukan lain berkaitan dengan dunia usaha, lapangan kerja, pengembangan sumber daya mausia, atau pengembangan masyarakat. Masukan lain ini dapat dikategorikan ke dalam: (1) daya dukung untuk berusaha (bisnis) seperti pemasaran, permodalan, bahan baku, dan proses produksi, (2) pembinaan lanjutan lulusan seperti bmbingan, konsultasi, pendidikan perbaikan, pendidikan lanjutan, penyuluhan, dan penyediaan informasi, (3) pengembangan karier, kebijakan, sarana dan fasilitas kerja, dan penghargaan, serta (4) organisasi seperti paguyuban (persatuan) alumni, koperasi, pembentukan badan usaha, hubungan kelembagaan, jejaring (networking), dan lain sebagainya.
       Pengaruh (outcome) atau dampak yang merupakan “tujuan utama” (ultimate goals) Pendidikan Non-Formal. Pengaruh ini meliputi perubahan sikap dan perilaku lulusan untuk pengembangan dirinya, pembelajaran orang lain, dan pemberdayaan masyarakatnya. Pengaruh bagi pengembangan dirinya adalah tumbuhnya kebiasaan atau belajar untuk meningkatkan taraf hidupnya seperti perolehan dan peningkatan pendapatan, peningkatan kinerja dalam melaksanakan tugas pekerjaan, memperbaiki penampilan, dan mengintensifkan pembinaan keluarga. Pembelajaran orang lain adalah upaya menularkan kemampuan yang telah dirasakan manfaatnya oleh lulusan kepada orang lain yang memerlukan kemampuan tersebut. Penularan ini dapat melalui penyebaran informasi, magang, pendidikan, penyuluhan, dan lain sebagainya. Pengaruh Pendidikan Non-Formal
bagi pemberdayaan masyarakat diwujudkan dalam keikutsertaan lulusan dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat. Keikutsertaan ini dapat melalui partisipasi buah pikiran, harta benda, tenaga, keterampilan, dan lain sebagainya sehingga masyarakat berdaya untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya antara lain dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik.
        Setelah membicarakan komponen, proses dan tujuan Pendidikan Non-Formal secara sistemik maka dapat disimpulkan bahwa suatu kegiaan pendidikan yang lengkap terdiri atas tujuh unsur sistem pendidikan yang terdiri atas masukan (masukan lingkungan, masukan sarana, masukan mentah, dan masukan lain),
proses pendidikan, dan tujuan pendidikan (keluaran dan pengaruh).
Bersambung.....

baca toni di’e sola



Tidak ada komentar:

Posting Komentar